My Stories

Berbagai pengalaman

My Stories header image 1

Pacar Selingkuh Pakai Laptopku, Enaknya diapain ya?

December 20th, 2008 · Relationship

laptop-use-lg.jpgKarena dia bilang ga bisa datang, sabtu sore (20/12) aku jadinya “berkencan” dengan laptopku. Seperti biasa, yang pertama aku buka adalah Facebook (FB). Belakangan ini aku lagi seneng-senengnya buka FB sampai lupa situs satunya: Friendster (FS). Makanya kali ini akupun segera buka juga FS yang sudah lama nggak aku kunjungi. Aku pun meng-klik homepagenya dan begitu terbuka, seketika aku terkejut karena langsung masuk account FS cowok aku, sebut saja namanya Bajul. Rupanya dia lupa log out sehabis log in pake lapotopku beberapa hari yang lalu. Ini memang bukan pertama kali terjadi, namun tetap saja aku heran kenapa dia mengulang “kecerobohannya” (walau buatku menjadi keuntungan ;-p).

Meski dengan sedikit rasa bersalah karena masuk account orang lain, namun aku tetap membuka bagian inbox-nya. Pembenaranku adalah, pertama laptop ini milikku, kedua ini kejadian kedua kalinya. Waktu itu, 2 bulan yang lalu aku menemukan bukti awal yang mencurigakan; di  inboxnya ada banyak pesan dari para cewek. Buatku tidak masalah kalau pesan2 itu hanya bilang “Hi, boleh kenal?” atau “Add gw ya..”. Namun yang aku temukan adalah balasan dari pesan yang dikirimkan cowokku. Dari judulnya sudah ketahuan jelas :”Re: Bajul has sent you a smile”. Saat aku tanyakan ke si Bajul, dia bilang itu risetnya dia untuk buat tulisan soal pergaulan bebas ala mahasiswi Jakarta. Aku bilang sementara terima alasannya sembari berjanji dalam hati untuk tetap waspada. Aku juga sempat minta putus, namun dia nggak mau. Aku lalu bilang  kalau terbukti dia ada apa-apa sama cewek lain, aku nggak bisa jalan lagi sama dia. Jadi untuk sementara kasus itu selesai dulu, hingga Sabtu sore ini.

Aku menemukan Bajul berbalas pesan dg salah satu cewek, yang kita sebut saja Dita. Dita ini salah satu cewek yang dia “riset” 2 bulan yang lalu. Begini salah satu dialog mereka:

Dita: “Jul, hubungan kita ni mau seperti apa sih? Aku nggak tahu mst gimana? Kamu anggap aku serius nggak sih?

Bajul: “mau serius”

Dita: “Sorry aku tanya kaya gini, karena aku bingung sama status aku.”

Bajul: “Jangan bingung”

Dita: “Dibilang temen lebih dari teman, dibilang pacaran tapi kok ga jelas ya?

Bajul: “Sekarang sudah jelas kan?”

Dita: “Kami aja sering banget ga ngasih kabar”

Bajul: “Kan kadang-kadang aku suka sibuk banget, sayang…”

Dita: “Tadi aku udah telp, kamu bilang nanti kamu telpon balik. Tapi nyatanya kamu nggak telpon kan? Capeeeee”

Bajul: “Ini dah dijelasin kan, kemarin..”

Selain dialog di atas, masih ada lagi beberapa pesan yang menunjukan si Bajul mulai menghilang dari Dita.  Namun itu sudah nggak penting buatku. Yang jelas, frase”Mau serius” dan “..lebih dari teman” jadi bukti yang membuatku yakin bahwa Bajul sudah selingkuh. Artinya aku sudah tidak bisa percaya lagi penjelasannya 2 bulan yang lalu.  Kalau untuk riset, tidak perlu menyatakan serius kan? Apalagi dari profile dan cara Dita menuliskan pesannya tidak terlihat dia tipe perempuan yang doyan bergaul dengan bebas tanpa kepastian serius atau tidak.

Biarpun pahit, paling tidak aku bisa memetik pelajaran dalam membina hubungan dengan cowok:

1) Waspadai tanda-tanda ketidakberesan yang muncul, jangan percaya membabi buta.

2) Tetapkan standar yang jelas, terlalu sering mentolerir kesalahan yang disengaja membuat posisi tawar kita lemah di mata pasangan

3) Cadangkan perasaan dan harapan anda, jangan seluruhnya diberikan pada pasangan. Ingat prinsip investasi “Jangan menaruh telur dalam satu keranjang”

Sikapku sekarang sudah pasti, aku tidak bisa lagi melanjutkan hubungan dengan cowok seperti ini. Ada beberapa cara yang mungkin aku pilih:

1) langsung anggap putus tanpa kata-kata

2) ngomong baik-baik sambil menberikan alasan dan buktinya (Tapi aku sudah males untuk ketemu dia dan dengerin pembelaannya)

3) memberikan sedikit “pelajaran” biar ga ada korban berikutnya.

Para pembaca yang budiman, adakah saran dan ide untuk membantu saya?

→ 6 CommentsTags:

Sahabatku Korban Cyberlove

December 8th, 2008 · Relationship

“Gue percaya ada cyberlove yang berhasil. Tapi selama itu belum ada wujudnya di dunia nyata, elu nggak bisa berharap apapun.”

Itu yang sering kukatakan kepada - sebut saja- Maya, sahabat karibku. Teman-teman yang lain juga tak kurang menasehatinya untuk melupakan si Bule yang dikenalnya si sebuah chatroom beberapa tahun yang lalu. Namun sia-sia saja. Maya tetap keukeuh berharap si Bule akan datang melamarnya suatu saat nanti. Padahal secara kasat mata saja sudah terlihat tanda-tanda si Bule nggak serius.

Pertama, dia sudah berkali-kali janji datang ke Jakarta dari negaranya di benua seberang, namun selalu saja ada alasan untuk membatalkannya. Kedua, saat sahabatku ini berkunjung ke benua si Bule, dia pun berdalih untuk nggak bisa menemui Maya. Ketiga, ini yang paling jelas, pernyataan dari si Bule bilang sendiri ke aku.  Ceritanya, Maya kenalin aku ke si Bule via chatroom. Suatu saat aku berkesempatan ngobrol sama doi berdua saja, via chatroom tentunya. Aku nanya, sebenarnya apa sih maunya doi ke sahabat aku itu. Kok kayaknya susah banget gitu. Udah putus nyambung mulu, batal ketemu mulu pula. Dan apa jawabnya, gue benar-bener nggak nyangka sejahat itu.

“Gue cuma ngganggap doi teman biasa, secara awalnya doi enak diajak curhat. Tapi lama-lama gw merasa tertekan. Gw ga bisa ngebayangin kalau sampai ketemu langsung ama dia. Pasti dia akan nge-push mulu minta married.”

“Lho, katanya kalian udah sepakat untuk nikah?” Tanyaku

“Siapa yang bilang? Gw udah bilang sama dia, kita tuh ga cocok. Lagian gw juga udah tegasin kalau gue tuh nggak pingin nikah. Tapi dia tetap aja membujuk gue.” ujarnya.”Padahal sebenarnya gw pingin banget liat Indonesia.”

“Tapi bukan berarti elu seenaknya mainin dia donk..Tahun lalu pas doi terbang ke negara elu, elu ga mau temuin dia. Elu ga tahu apa dia keluar ongkos, tenaga dan waktu untuk sekedar ketemu elu.”

“Dia aja yang bandel. Aku sudah bilang kalo waktu itu aku harus tugas ke luar kota. Nggak bisa ketemu. Tapi dia main terbang aja. Ngomong-ngomong, enak ya ngobrol sama elu…rileks.. Kalo gw jadi ke Indonesia, ketemu elu aja yah.”

“No, thanks. Gw musti cabut nih. Bye.”

Gw menutup pembicaraan sambil geleng-geleng. Kalau ada pengadilan tindak pidana cinta, kena berapa pasal  pelanggarannya: janji palsu, ngeles, plin-plan, dan mencoba merayu sahabat gebetannya. Kalau kata Rhoma Irama,” Ther-lha-lhu.” Namun lebih terlalu lagi  sobat gw yang tetap saja berharap pada orang yang bahkan belum pernah ditemuinya langsung. “I knew I loved him before I met him,” kata Maya mengutip judul lagu Savage Garden.

Itu terakhir kali gw chat sama tuh Bule gebleg. Gw ga kasih tahu percakapan itu pada Maya, karena dibalik kebebalannya dia juga mudah down. Aku juga sempat perang batin antara kasih tau atau tidak. Yang jelas gw berusaha terus mengingatkan dia utk berhenti mengharapkan Si Bule. Namun entah pelet macam apa atau temen gw aja yang buta. Biar udah dikacangin berkali-kali, dan otomatis kecewa berkali-kali pula, Maya tetap aja yakin kalau kesabarannya akan berbuah manis. Bosan dengan kata-kata halus bin lembut, gw ga tahan keluarin kata-kata yang agak nyentil, supaya dia sadar.

“Dengar ya Maya, yang namanya cowok, kalau memang dia niat dan cinta sama elu, tak perlu elu belain jauh-jauh ke terbang negaranya. Elu ngumpet ke ujung dunia juga dikejar. Lha ini si Bule, janji ketemu di chatroom aja batal mulu. Gimana mau serius sama elu. Mungkin memang dia enak diajak ngobrol dan curhat, tapi sekali lagi dia jelas-jelas nggak serius. Padahal kamunya berharap banyak sama hubungan kalian ke depan. Gak akan pernah nyambung kan?.”

Pertengahan 2008, gw dapat kabar dari teman lain bahwa si Bule kembali batal datang untuk ketiga kalinya. dan untuk kesekian kalinya Si Maya yang meski kecewa masih yakin kesabarannya bisa membuat si Bule berubah. Sejak itu aku pelan-pelan meredam niatku untuk menyadarkannya. Akhirnya aku sendiri yang sadar bahwa peranku sebagai seorang sahabat sudah cukup. Mungkin memang hanya Tuhan sendiri yang mampu membuat matanya terbuka melalui cara-Nya yang kita nggak tahu apa. Semoga dia bakal kuat menghadapinya apapun yang terjadi.

→ 6 CommentsTags: ·